Minggu, 04 Juli 2021

Hasil Bacaan Kurikulum

 

Nama

:

Muhammad Izma Wahyuda

NIM

:

11901061

Kelas

:

PAI 4/E

Mata Kuliah

:

Magang 1

Dosen Pengampu

:

Farninda Aditiya, M.Pd.


KURIKULUM

Dalam dunia pendidikan, khususnya di ruang lingkup universitas atau  kampus. Kurikulum ini dapat diketahui secara luas didefinisikan sebagai totalitas pengalaman mahasiswa yang terjadi di proses pendidikan. Istilah ini sering merujuk secara khusus pada urutan instruksi yang direncanakan, atau pandangan pengalaman siswa dalam hal tujuan instruksional pendidik atau sekolah. Dalam sebuah studi tahun 2003, Reys, Reys, Lapan, Holliday, dan Wasman mengacu pada kurikulum sebagai seperangkat tujuan pembelajaran yang diartikulasikan di seluruh kelas yang menguraikan konten matematika yang dimaksudkan dan tujuan proses pada titik waktu tertentu di seluruh program sekolah. Kurikulum dapat menggabungkan interaksi yang direncanakan murid dengan konten instruksional, bahan, sumber daya, dan proses untuk mengevaluasi pencapaian tujuan pendidikan. Kurikulum dibagi menjadi beberapa kategori: eksplisit, implisit (termasuk yang tersembunyi), yang dikecualikan, dan ekstrakurikuler. 

Perlu diperhatikan Kurikulum mungkin distandarisasi secara ketat, atau mungkin mencakup otonomi instruktur atau pelajar tingkat tinggi. Banyak negara memiliki kurikulum nasional dalam pendidikan dasar, pertama dan menengah.

Apa sih sebenarnya yang disebut dengan kurikulum PAI kurikulum terlebih dahulu kita harus menempatkan kurikulum dalam konteks yang lebih luas yaitu dalam dunia pendidikan itu sendiri, Kita tahu bahwa pendidikan punya tujuan yang jelas demikian juga dengan pembelajaran, maka sebenarnya bisa kita lihat bahwa tujuan pendidikan dan pembelajaran pasti didasari oleh pertimbangan ketimbangan tertentu dalam hal ini terdapat tiga pertimbangan utama dalam tujuan pendidikan dan pengajaran yaitu perkembangan blouse office perkembangan psikologis dan juga pertimbangan sosial nah bener ya ketika kita memahami bahwa tujuan pendidikan dan pembelajaran memiliki dasar filosofis ekologis dan sosial. Maka demikian pula dengan kurikulum juga pasti memiliki dasar filosofis psikologis dan sosial terutama dalam pengembangan implementasi dan evaluasi nya

Nah kalau kita lihat secara lebih luas tujuan pendidikan dan pembelajaran Pasti akan sangat beragam karena didasari oleh berbagai pandangan filosofis di berbagai pertimbangan schoology student juga sosial Nah kita lihat kalau dalam komponen pendidikan bahwa pendidikan itu merupakan ilmu yang mengkaji bagaimana siswa yang paling awal yang harus dijawab dalam belajarnya untuk belajar untuk terus bisa menyetujui dan pembelajaran dan ketika tujuan pergantian pelajaran tersebut didasari pertimbangan filosofis psikologis dan sosial. Maka ada satu pertanyaan mau belajar apa dan jawabannya adalah kurikulum kurikulum jika harus punya dasar filosofis ekologis dan sosial kita bisa melihat di sini bahwa kurikulum menjadi bagian dari elemen pendidikan itu sendiri. Perlu diperhatikan betul-betul bahwa kurikulum merupakan bagian dari sistem pendidikan yang ada yang melihat bahwa ia merupakan satu sistem yang utuh yang terdiri dari elemen-elemen yang saling punya peran dan posisi untuk mencapai tujuan yang sama yaitu tujuan pendidikan.

Dalam melaksanakan setiap kegiatan pembelajaran sebagai salah satu bentuk aktualisasi kurikulum, para guru terlebih dahulu harus memahami, menghayati, dan menjiwai tujuan pendidikan lembaganya masing-masing. Hal ini penting agar setiap aktivitas yang dilakukan sesuai dan menyokong pada upaya pencapaian tujuan lembaga.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.

Tujuan kurikulum pada hakikatnya adalah rumusan tujuan dari setiap program pendidikan yang akan diberikan dan harus dicapai oleh siswa. Mengingat kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka tujuan kurikulum pada setiap program pendidikan harus merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional. Rumusan tujuan pendidikan nasional di Indonesia dijabarkan dengan mengacu pada falsafah negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Bila kembali pada sejarah awal kurikulum, maka dapat kita ketahui kurikulum pada mulanya dipopulerkan dalam dunia olah raga pada jaman Yunani kuno. Dalam bahasa Yunani Curriculum berasal dari kata curir artinya pelari dan curere yang artinya tempat berpacu. Curiculum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Dalam dunia pendidikan diartikan “sejauh mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan oleh peserta didik untuk memperoleh ijazah. Isi dari kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran (subject matter) yang diberikan oleh institusi pendidikan yang kemudian dapat diperluas dengan kegiatan intra kurikuler dan ekstra kurikuler dan tujuan utama pendidikan atau kurikulun adalah agar peserta didik menguasai pengetahuan atau mata pelajaran yang disimbolkan dalam bentuk ijazah atau surat tanda belajar. Secara terminologis, istilah kurikulum yang digunakan dalam dunia pendidikan mengandung pengertian sebagai sejumlah pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa untuk mencapai satu tujuan pendidikan atau kompetensi yang ditetapkan. Sebagai tanda atau bukti bahwa seseorang peserta didik telah mencapai standar kompetensi tersebut adalah dengan sebuah ijazah atau sertifikat yang diberikan kepada peserta didik. 

Pada awal abad 20 terutama di Amerika muncul beberapa jenis organisasi kurikulun yang baru sebagai reaksi terhadap kurikulum subject matter yakni organisasi kurikulum paling tua. Pertentangan muncul antara subject matter dengan lawannya yakni activity curriculum. Dalam dunia pendidikan kita mengenal tiga jenis kurikulum yaitu subject matter curriculum, activity curriculum dan core curriculum.

Subject Matter Curriculum merupakan kurikulum yang tertua yaitu organisasi kurikulum berupa isi pendidikan dalam bentuk mata pelajaran (diklasifikasikan berdasarkan bidang keilmuan yang disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik), yang diberikan kepada para peserta didik secara terpisah-pisah satu sama lain.  Kurikulum subject matter memiliki beberapa kelemahan antara lain terlalu fragmentalis (terpecah), mengabakan minat dan bakat sisiwa, penyusunan yang tidak efisien, mengabaikan masalah sosial, gagal mengembangkan cara berpikir kreatif. Akibat kritikan tersebut maka dikembangkan beberapa kurikulum untuk menyempurnakan kurikulum subject matter antara lain Corelated Curriculum (kurikulum korelasi) yang dikembangkan oleh Herbat pada awal abad 19. Kurikulum ini menekankan adanya hubungan antara beberapa mata pelajaran tanpa menghilangkan batas-batas setiap mata pelajaran, seperti Broad field Curriculum yang dipelopori oleh Thomas Huxley pada tahun 1969 di London dan di Amerika yang pertama kali muncul ada awal abad 20. Sedangkan di Indonesia sejak tahun 1975 dalam kurikulum sudah menggunakan prinsip broadfield dengan mengembangkan bidang studi IPA,IPS, Bahasa, Matematika dan lain-lain.

Kurikulum aktivitas (activity curriculum) disebut juga kurikulum proyek atau kurikulum pengalaman. Kurikulum ini pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat melalui sekolah percobaan yang dipimpin oleh John Dewey 1897 di Chicago. Perbedaan antara kurikulum subject matter dan activity curriculum adalah program pendidikan ditujukan perhatiannya pada anak (child centre) bukan subject centre, belajar bersama merupakan hasil usaha perhatian bersama, tidak ada perencanaan yang mendahului, namun guru tetap bertanggung jawab terhadap beberapa tugas penting yang menuntu perencanaan.

Kurikulum inti (core curriculum) yang berpadangan bahwa pendidik memberikan tekanan kepada dua aspek yang berbeda yaitu: adanya reaksi terhadap mata pelajaran yang bercerai berai yang mengakumulasikan bahan pengetahuan, perubahan konsep mengenai peran ssial pendidikan di sekolah. Ciri-ciri kurikulum ini yang membedakannya dengan dua kurikulum sebelumnya adalah menekankan pada inti nilai-nilai sosial, struktur kurikulum ini ditentukan oleh problem sosial dan pri-kehidupan sosial, ciri pokok dari kurikulum ini adalah bahwa belajar umum diperlukan bagi semua siswa. Kelemahan kurikulum ini adalah lebih menekankan pada lapangan sosial.

kurikulum sebagai alat pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa fungsi, yaitu: kurikulum sebagai pengembangan proses kognitif anak, aktualisasi diri anak, rekonstruksi sosial, dan akademik.

Implementasi kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis. written curriculum dalam bentuk pembelajaran. hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Miller dan Seller (1985) bahwa implementasi kurikulum merupakan suatu penerapan konsep ide program atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran atau berbagai kreatifitas baru sehingga terjadinya perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah.

Fullan dalam Hamalik (1991: 65:66) mendefnisikan suatu gagasan, program atau kumpulan kegiatan yang baru bagi orang-orang yang berusaha atau diharapkan untuk berubah. Dengan demikian, implementasi kurikulum adalah penerapan ataupelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan yang disesuaikan terhadap situasi dan kondisi lapangan dan karakteristik peserta didik baik perkembangan intelektual, emosional, serta fsiknya.

Jadi dapat dipahami bahwa Dari segi bahasa curriculum dalam bahasa Yunani berasal dari kata curir yang artinya pelari dan curere yang artinya tempat berpacu. Dalam perkembangan selanjutnya pengertian kurikulum dapat dilihat secara sempit dan luas. Secara sempit kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari siswa untuk memperoleh ijazah. Sementara itu, dalam pandangan yang luas, kurikulum tidak hanya dibatasi pada sejumlah mata pelajaran yang lebih banyak menekankan pada isi, akan tetapi meliputi semua pengalaman belajar yang dilakukan pihak sekolah untuk mempengaruhi perkembangan pribadi siswa ke arah yang lebih positif sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Kurikulum di sisi lain diartikan sebagai program pendidikan yang mengatur dan mengelola segala hal yang berkaitan dengan kepentingan pendidikan. Dalam perkembangan terakhir dengan orientasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, kurikulum diartikan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan pembelajaran, serta pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Atas beberapa pengertian tersebut, kurikulum bisa diklasifikasi ke dalam dua segi: pertama, kurikulum ideal, yaitu rencana yang tertulis menyangkut segala se-suatu berkenaan dengan kepentingan pendidikan dan kedua, kurikulum aktual, yaitu kurikulum dalam dimensi implementasi pada setiap terjadinya proses pembelajaran yang dilakukan. Kurikulum memiliki peran yang sangat penting mengingat fungsinya sebagai alat untuk menjabarkan program pendidikan agar dapat dilakukan secara terencana, sistematis dan sistemik. Ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengorganisasian bahan atau materi pelajaran, yaitu pertama, model terpisah di mana bahan disusun secara terpisah untuk setiap mata pelajaran atau topik; kedua, model terkait, yaitu pengorganisasian yang menggabungkan beberapa topik atau materi yang memiliki keterkaitan ke dalam satu bidang; dan ketiga model terpadu yaitu suatu pendekatan yang menggabungkan secara utuh setiap materi atau bahan menjadi suatu unit yang tidak mengenal adanya batas-batas pemisah

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hasil Bacaan Kurikulum

  Nama : Muhammad Izma Wahyuda NIM : 11901061 Kelas : ...