Minggu, 04 Juli 2021

Hasil Bacaan Kurikulum

 

Nama

:

Muhammad Izma Wahyuda

NIM

:

11901061

Kelas

:

PAI 4/E

Mata Kuliah

:

Magang 1

Dosen Pengampu

:

Farninda Aditiya, M.Pd.


KURIKULUM

Dalam dunia pendidikan, khususnya di ruang lingkup universitas atau  kampus. Kurikulum ini dapat diketahui secara luas didefinisikan sebagai totalitas pengalaman mahasiswa yang terjadi di proses pendidikan. Istilah ini sering merujuk secara khusus pada urutan instruksi yang direncanakan, atau pandangan pengalaman siswa dalam hal tujuan instruksional pendidik atau sekolah. Dalam sebuah studi tahun 2003, Reys, Reys, Lapan, Holliday, dan Wasman mengacu pada kurikulum sebagai seperangkat tujuan pembelajaran yang diartikulasikan di seluruh kelas yang menguraikan konten matematika yang dimaksudkan dan tujuan proses pada titik waktu tertentu di seluruh program sekolah. Kurikulum dapat menggabungkan interaksi yang direncanakan murid dengan konten instruksional, bahan, sumber daya, dan proses untuk mengevaluasi pencapaian tujuan pendidikan. Kurikulum dibagi menjadi beberapa kategori: eksplisit, implisit (termasuk yang tersembunyi), yang dikecualikan, dan ekstrakurikuler. 

Perlu diperhatikan Kurikulum mungkin distandarisasi secara ketat, atau mungkin mencakup otonomi instruktur atau pelajar tingkat tinggi. Banyak negara memiliki kurikulum nasional dalam pendidikan dasar, pertama dan menengah.

Apa sih sebenarnya yang disebut dengan kurikulum PAI kurikulum terlebih dahulu kita harus menempatkan kurikulum dalam konteks yang lebih luas yaitu dalam dunia pendidikan itu sendiri, Kita tahu bahwa pendidikan punya tujuan yang jelas demikian juga dengan pembelajaran, maka sebenarnya bisa kita lihat bahwa tujuan pendidikan dan pembelajaran pasti didasari oleh pertimbangan ketimbangan tertentu dalam hal ini terdapat tiga pertimbangan utama dalam tujuan pendidikan dan pengajaran yaitu perkembangan blouse office perkembangan psikologis dan juga pertimbangan sosial nah bener ya ketika kita memahami bahwa tujuan pendidikan dan pembelajaran memiliki dasar filosofis ekologis dan sosial. Maka demikian pula dengan kurikulum juga pasti memiliki dasar filosofis psikologis dan sosial terutama dalam pengembangan implementasi dan evaluasi nya

Nah kalau kita lihat secara lebih luas tujuan pendidikan dan pembelajaran Pasti akan sangat beragam karena didasari oleh berbagai pandangan filosofis di berbagai pertimbangan schoology student juga sosial Nah kita lihat kalau dalam komponen pendidikan bahwa pendidikan itu merupakan ilmu yang mengkaji bagaimana siswa yang paling awal yang harus dijawab dalam belajarnya untuk belajar untuk terus bisa menyetujui dan pembelajaran dan ketika tujuan pergantian pelajaran tersebut didasari pertimbangan filosofis psikologis dan sosial. Maka ada satu pertanyaan mau belajar apa dan jawabannya adalah kurikulum kurikulum jika harus punya dasar filosofis ekologis dan sosial kita bisa melihat di sini bahwa kurikulum menjadi bagian dari elemen pendidikan itu sendiri. Perlu diperhatikan betul-betul bahwa kurikulum merupakan bagian dari sistem pendidikan yang ada yang melihat bahwa ia merupakan satu sistem yang utuh yang terdiri dari elemen-elemen yang saling punya peran dan posisi untuk mencapai tujuan yang sama yaitu tujuan pendidikan.

Dalam melaksanakan setiap kegiatan pembelajaran sebagai salah satu bentuk aktualisasi kurikulum, para guru terlebih dahulu harus memahami, menghayati, dan menjiwai tujuan pendidikan lembaganya masing-masing. Hal ini penting agar setiap aktivitas yang dilakukan sesuai dan menyokong pada upaya pencapaian tujuan lembaga.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.

Tujuan kurikulum pada hakikatnya adalah rumusan tujuan dari setiap program pendidikan yang akan diberikan dan harus dicapai oleh siswa. Mengingat kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka tujuan kurikulum pada setiap program pendidikan harus merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional. Rumusan tujuan pendidikan nasional di Indonesia dijabarkan dengan mengacu pada falsafah negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Bila kembali pada sejarah awal kurikulum, maka dapat kita ketahui kurikulum pada mulanya dipopulerkan dalam dunia olah raga pada jaman Yunani kuno. Dalam bahasa Yunani Curriculum berasal dari kata curir artinya pelari dan curere yang artinya tempat berpacu. Curiculum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Dalam dunia pendidikan diartikan “sejauh mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan oleh peserta didik untuk memperoleh ijazah. Isi dari kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran (subject matter) yang diberikan oleh institusi pendidikan yang kemudian dapat diperluas dengan kegiatan intra kurikuler dan ekstra kurikuler dan tujuan utama pendidikan atau kurikulun adalah agar peserta didik menguasai pengetahuan atau mata pelajaran yang disimbolkan dalam bentuk ijazah atau surat tanda belajar. Secara terminologis, istilah kurikulum yang digunakan dalam dunia pendidikan mengandung pengertian sebagai sejumlah pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa untuk mencapai satu tujuan pendidikan atau kompetensi yang ditetapkan. Sebagai tanda atau bukti bahwa seseorang peserta didik telah mencapai standar kompetensi tersebut adalah dengan sebuah ijazah atau sertifikat yang diberikan kepada peserta didik. 

Pada awal abad 20 terutama di Amerika muncul beberapa jenis organisasi kurikulun yang baru sebagai reaksi terhadap kurikulum subject matter yakni organisasi kurikulum paling tua. Pertentangan muncul antara subject matter dengan lawannya yakni activity curriculum. Dalam dunia pendidikan kita mengenal tiga jenis kurikulum yaitu subject matter curriculum, activity curriculum dan core curriculum.

Subject Matter Curriculum merupakan kurikulum yang tertua yaitu organisasi kurikulum berupa isi pendidikan dalam bentuk mata pelajaran (diklasifikasikan berdasarkan bidang keilmuan yang disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik), yang diberikan kepada para peserta didik secara terpisah-pisah satu sama lain.  Kurikulum subject matter memiliki beberapa kelemahan antara lain terlalu fragmentalis (terpecah), mengabakan minat dan bakat sisiwa, penyusunan yang tidak efisien, mengabaikan masalah sosial, gagal mengembangkan cara berpikir kreatif. Akibat kritikan tersebut maka dikembangkan beberapa kurikulum untuk menyempurnakan kurikulum subject matter antara lain Corelated Curriculum (kurikulum korelasi) yang dikembangkan oleh Herbat pada awal abad 19. Kurikulum ini menekankan adanya hubungan antara beberapa mata pelajaran tanpa menghilangkan batas-batas setiap mata pelajaran, seperti Broad field Curriculum yang dipelopori oleh Thomas Huxley pada tahun 1969 di London dan di Amerika yang pertama kali muncul ada awal abad 20. Sedangkan di Indonesia sejak tahun 1975 dalam kurikulum sudah menggunakan prinsip broadfield dengan mengembangkan bidang studi IPA,IPS, Bahasa, Matematika dan lain-lain.

Kurikulum aktivitas (activity curriculum) disebut juga kurikulum proyek atau kurikulum pengalaman. Kurikulum ini pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat melalui sekolah percobaan yang dipimpin oleh John Dewey 1897 di Chicago. Perbedaan antara kurikulum subject matter dan activity curriculum adalah program pendidikan ditujukan perhatiannya pada anak (child centre) bukan subject centre, belajar bersama merupakan hasil usaha perhatian bersama, tidak ada perencanaan yang mendahului, namun guru tetap bertanggung jawab terhadap beberapa tugas penting yang menuntu perencanaan.

Kurikulum inti (core curriculum) yang berpadangan bahwa pendidik memberikan tekanan kepada dua aspek yang berbeda yaitu: adanya reaksi terhadap mata pelajaran yang bercerai berai yang mengakumulasikan bahan pengetahuan, perubahan konsep mengenai peran ssial pendidikan di sekolah. Ciri-ciri kurikulum ini yang membedakannya dengan dua kurikulum sebelumnya adalah menekankan pada inti nilai-nilai sosial, struktur kurikulum ini ditentukan oleh problem sosial dan pri-kehidupan sosial, ciri pokok dari kurikulum ini adalah bahwa belajar umum diperlukan bagi semua siswa. Kelemahan kurikulum ini adalah lebih menekankan pada lapangan sosial.

kurikulum sebagai alat pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa fungsi, yaitu: kurikulum sebagai pengembangan proses kognitif anak, aktualisasi diri anak, rekonstruksi sosial, dan akademik.

Implementasi kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis. written curriculum dalam bentuk pembelajaran. hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Miller dan Seller (1985) bahwa implementasi kurikulum merupakan suatu penerapan konsep ide program atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran atau berbagai kreatifitas baru sehingga terjadinya perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah.

Fullan dalam Hamalik (1991: 65:66) mendefnisikan suatu gagasan, program atau kumpulan kegiatan yang baru bagi orang-orang yang berusaha atau diharapkan untuk berubah. Dengan demikian, implementasi kurikulum adalah penerapan ataupelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan yang disesuaikan terhadap situasi dan kondisi lapangan dan karakteristik peserta didik baik perkembangan intelektual, emosional, serta fsiknya.

Jadi dapat dipahami bahwa Dari segi bahasa curriculum dalam bahasa Yunani berasal dari kata curir yang artinya pelari dan curere yang artinya tempat berpacu. Dalam perkembangan selanjutnya pengertian kurikulum dapat dilihat secara sempit dan luas. Secara sempit kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari siswa untuk memperoleh ijazah. Sementara itu, dalam pandangan yang luas, kurikulum tidak hanya dibatasi pada sejumlah mata pelajaran yang lebih banyak menekankan pada isi, akan tetapi meliputi semua pengalaman belajar yang dilakukan pihak sekolah untuk mempengaruhi perkembangan pribadi siswa ke arah yang lebih positif sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Kurikulum di sisi lain diartikan sebagai program pendidikan yang mengatur dan mengelola segala hal yang berkaitan dengan kepentingan pendidikan. Dalam perkembangan terakhir dengan orientasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, kurikulum diartikan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan pembelajaran, serta pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Atas beberapa pengertian tersebut, kurikulum bisa diklasifikasi ke dalam dua segi: pertama, kurikulum ideal, yaitu rencana yang tertulis menyangkut segala se-suatu berkenaan dengan kepentingan pendidikan dan kedua, kurikulum aktual, yaitu kurikulum dalam dimensi implementasi pada setiap terjadinya proses pembelajaran yang dilakukan. Kurikulum memiliki peran yang sangat penting mengingat fungsinya sebagai alat untuk menjabarkan program pendidikan agar dapat dilakukan secara terencana, sistematis dan sistemik. Ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengorganisasian bahan atau materi pelajaran, yaitu pertama, model terpisah di mana bahan disusun secara terpisah untuk setiap mata pelajaran atau topik; kedua, model terkait, yaitu pengorganisasian yang menggabungkan beberapa topik atau materi yang memiliki keterkaitan ke dalam satu bidang; dan ketiga model terpadu yaitu suatu pendekatan yang menggabungkan secara utuh setiap materi atau bahan menjadi suatu unit yang tidak mengenal adanya batas-batas pemisah

 

 

 


Sabtu, 24 April 2021

HASIL BACAAN KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

 

Nama

:

Muhammad Izma Wahyuda

NIM

:

11901061

Kelas

:

PAI 4E

Makul

:

Magang 1

 

Karakteristik Peserta Didik

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah, pada kesempatan hari Minggu yang cerah ini ditempat kediaman saya, saya dapat kembali membuat suatu kegiatan yaitu menyampiakan hasil bacaan saya, yang mana tulisan ini berguna sekali dalam menunjang keaktifan serta kreatifitas para mahasiswa dalam menulis.

Karakter adalah istilah Netral. Sejatinya, bila dengan tanpa adanya pendidikan karakter setiap peserta didik pastilah memiliki karakter yang baik ataupun buruk. Jadi pengertian karakter adalah tabiat, watak Omah akhlak yang dimiliki setiap orang atau peserta didik dalam pengaplikasiannya atau penerapannya setelah karakter selalu bermakna sesuatu yang baik atau positif.

Menurut pendapat ahli karakter memiliki makna watak, tabiat dan kepribadian menurut Nata. Lagu dalam pandangan Islam, karakter yang disebut juga kepribadian yang mana terdiri atas dua macam yaitu kepribadian baik dan kepribadian yang buruk kepribadian yang baik menurut Alquran adalah sebagai berikut: almukminun, al-mukhlisin, al-muttaqun, Al muhsinun, shadiqun, Al muflihun, Ibad Al Rahman, Mukhlisun, al-rasyidun, Al mutawakkilun, al-muhtadun, ulama, al-rasikhuna, fi al-ilm,ulul al-Bab, ulu al-nuha, ulul allm,ahl-dzikr. Ini bagian adalah kepribadian yang baik.

Lanjut kepribadian yang buruk yaitu Kafirun, munafiqun, ghafilun, Al fasikun, Al dzalimun, Al jahilun dan al-khasirun. Kata-kata tersebut berkaitan langsung dengan Alquran. Sebab dari setiap perbuatan baik ataupun buruk pasti semuanya muaranya telah di dijelaskan terlebih dahulu dalam Alquran.

Selanjutnya kita masuk pada secara pengertian secara istilah menurut aja sebelum kita mempelajari karakter peserta didik kita harus mengetahui dulu istilah karakter itu apa dan berasal dari mana. Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani yaitu charaasein, yang berarti to engrave atau mengukir. Membentuk karakter diibaratkan seperti mengukir diatas batu permata atau permukaan besi yang keras. Dari itulah kemudian berkembang pengertian karakter yang diartikan sebagai tanda khusus atau pola perilaku bila dilihat ada dua pengertian tentang karakter. Pertama, yang menunjukkan Bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku yang buruk. Namun bila sebaliknya seseorang tersebut berperilaku jujur suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter muli. Lanjut yang kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan personality seseorang baru bisa disebut orang yang berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral bila tidak sesuai dengan kaidah moral tentu saja tidak dapat dikatakan baik tingkah lakunya.

Berdasarkan pengertian sejarah bahasa atau etimologi dan secara istilah dapat kita petik pengertian karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan sikap dan motivasi, serta perilaku, dan keterampilan.

Berdasarkan hasil penelitian sebuah lembaga kementerian pendidikan yang mana menurut mereka bahwa telah dirumuskan dan dan telah disepakati 18 nilai karakter yaitu sebagai berikut:

a.       Religius : sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya toleran atau toleransi terhadap pelaksanaan ibadah agama lain dan saling menghargai dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain Jadi religius di sini sangat menentukan dalam penilaian karakter bagi setiap orang maupun individu bila kita saling menghargai perbedaan di sekitar kita maka nilai-nilai karakter akan berjalan sesuai Semestinya.

b.      Jujur: perilaku atau sikap yang didasarkan pada upaya yang menjadikan anne-marie nya sendiri ataupun individu tersebut sebagai orang yang selalu dapat dipercaya baik dalam perkataan tindakan dan pekerjaannya penilaian karakter tentang jujur ini sangat berpengaruh sekali bila seseorang tersebut dipercaya oleh masyarakat atau lingkungan sekitar maka akan mudah mengetahui dan mendapat peran di lingkungan karena kejujurannya.

c.       Toleransi: bila telah dibaca sebelumnya bagian A tadi tentang religius dari perkataan saya tadi ada menyinggung tentang toleransi lebih jelas toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan mulai dari agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

d.      Disiplin: dan kaitannya dengan karakteristik Pendidikan disiplin sangat ditentukan oleh tindakan oleh peserta didik yang mana harus menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan serta peraturan yang telah dibuat bila kita sebagai guru ingin melihat peserta didik kita Apakah karakteristiknya itu seperti apa maka dari disiplin ini dari anak didik kita sendiri kita bisa melihatnya.

e.       Kerja keras: tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai Ketentuan dan peraturan

f.       Kreatif: dalam kaitan ini ini seseorang harus bagaimana dia berpikir dan bertindak dalam melakukan sesuatu untuk menghasilkan baik itu cara cara atau hasil kedepannya dari sesuatu yang telah dia miliki.

g.      Mandiri: ini bentuk sikap dan perilaku yang boleh dikatakan tidak mudah ya tergantung pada individu tersebut dalam kaitannya seandainya ada tugas maka dia harus mandiri mengerjakan sendiri ataupun dia harus mencari sendiri jawaban dari tugas tersebut ini sedikit susah atau sulit diterapkan oleh seseorang atau individu tersebut.

h.      Demokratis: cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain Jadi demokrasi ini lebih menekankan pada Ada kesamaan demokrasi ini kan berarti sesuatu yang harus semua orang atau Individu memiliki hak dan kewajibannya tersendiri

i.        Rasa ingin tahu: sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang telah dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

j.        Semangat kebangsaan: dalam kaitan ini ini penting sekali cara berpikir, bertindak, dan berwawasan, sebab hal tersebut berkaitan langsung dengan kepentingan bangsa dan negara serta semangat kebangsaan ini harus diatas kepentingan pribadi maupun kelompok agar agar tercapainya tujuan yang dituju oleh negara.

k.      Cinta tanah air: cara berpikir bertindak dan berwawasan hampir sama halnya dengan semangat kebangsaan sama-sama tujuannya untuk kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun kelompok jadi dapat ditarik kesimpulan semangat kebangsaan dan cinta tanah air ini yang bersama pokok intinya begitu.

l.        Menghargai prestasi : dalam kaitan ini sikap dan tindakan yang mendorong pribadinya sendiri untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri maupun masyarakat dan dan menghormati apabila teman maupun orang lain mendapatkan prestasi harus menghargai keberhasilan orang tersebut ini berkaitan dengan karakter Bila seseorang atau peserta didik bisa menghargai hasil jerih payah orang lain ataupun dirinya sendiri maka akan berdampak positif dalam pikirannya sehingga kedepannya ataupun yang akan datang akan menunjukkan eksistensinya sendiri tentang mengejar itu prestasi.

m.    Bersahabat/komunikatif: sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain persahabatan itu sangat perlu dalam membentuk karakteristik peserta didik Oleh sebab itu penting sekali mencari atau memilah dalam dalam kelompok atau pertemanan baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat

n.      Cinta damai: sikap dan tindakan cinta damai harus mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu utamanya tuh berguna bagi masyarakat sehingga kedepannya masyarakat dapat menghargai dan mengakui serta yang penting menghormati keberhasilan bila ini bisa Cinta Damai maka orang lain akan menghormati keberhasilan dirinya itu.

o.      Gemar membaca: dalam kaitannya Gemar Membaca kebiasaan ini sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan oleh peserta didik sebab banyak sekali gangguan atau permasalahan karakter yang setiap anak oleh suami itu nomor membaca dapat membentuk kebiasaan yang mana bila waktu luang dapat digunakan untuk menambah wawasan seperti membaca berbagai bacaan Novel buku pelajaran atau buku puisi itu sudah baik untuk menambah Gemar Membaca dari kita sendiri serta kedepannya dengan adanya gambar membaca orang tersebut dapat lebih pandai dan lebih bijak dalam menentukan hal yang akan datang.

p.      Peduli lingkungan: berbicara dengan tentang peduli lingkungan hal ini menjadi fokus pembahasan atau nilai lebih dari karakteristik peserta didik hal ini harus dilihat dari peran seorang guru Bila seorang guru mengajarkan tentang peduli lingkungan dengan peraktek dan serta ditambah teori-teori maka sikap dan tindakan peserta didik akan berupaya dan merawat serta mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya serta bisa mengembangkan pola pikir peserta didik untuk berupaya memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi di lingkungan sekitar penting sekali saya garis bawahi peduli lingkungan harus dimulai dari sejak dini bila sejak dini orang tua lingkungan masyarakat serta Guru sudah mengajarkan tentang pedulinya lingkungan maka kedepannya anak-anak peserta didik akan mencintai lingkungan sekitar dengan baik.

q.      Peduli sosial: hal ini sering kita dengar banyak sekali forum-forum atau lembaga-lembaga Yang menaungi bidang sosial yang ingin saya sampaikan bila karakteristik atau sikap dan tindakan yang selalu ingin Bagaimana dapat memberi bantuan pada orang lain serta masyarakat yang membutuhkan oleh sebab itu karakteristik ini harus diajarkan sama persis dari kecil peserta didik.

r.        Tanggung jawab: sikap dan perilaku individu peserta didik untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang mana harus dia lakukan baik itu terhadap dirinya sendiri, masyarakat, Lingkungan antara lain alam, sosial, dan budaya. Lalu juga ada negara dan tuhan yang maha esa titik dari ke 18 nilai karakter dapat dapat diperas atau dapat kita dapatkan intinya menjadi 5 nilai karakter yaitu nasionalisme kemandirian, integritas, religiusitas dan gotong royong.

 

Karakteristik peserta didik dapat didefinisikan sebagai ciri dari kualitas perorangan peserta didik tersebut yang pada umumnya meliputi kemampuan akademik usia peserta didik dan tingkat kedewasaan serta motivasi motivasi terhadap mata pelajaran pengalaman, keterampilan, psikomotorik kemampuan kerjasama, dan yang terakhir kemampuan sosial. Selain pengertian secara umum tentang karakteristik peserta didik juga ada karakteristik secara khusus disebut dengan non konvensional yang meliputi kelompok minoritas atau Suku, cacat, serta tingkat kedewasaan. Karakteristik ini khusus ini berpengaruh sekali pada penggunaan bahasa penghargaan atau pengakuan oleh masyarakat sendiri, perlakuan khusus dan metode strategi dalam proses pengajaran.

 

Jadi dapat kita simpulkan pada pembahasan kali ini mengenai karakteristik peserta didik adalah berkaitan sekali dengan sikap dan tindakan oleh peserta didik yang mana perlu pengawasan dan perlu perhatian khusus dari guru di lingkungan sekolah serta orang tua. Tambahan karakter peserta didik berpusat pada kepribadian atau watak, budi pekerti serta sifat kejiwaan yang dimiliki peserta didik yang menjadi ciri khas dan pembeda antara peserta didik satu dengan peserta didik yang lainnya dalam menampakan sikap-sikap dan nilai-nilai yang baik dalam kehidupan.

 

 

 

Referensi

Aji sofanudin, dkk. 2020. Literasi Keagamaan dan Karakteristik Peserta Didik. Yogyakarta: DIVA Press.

 

Minggu, 18 April 2021

HASIL BACAAN STRATEGI PEMBELAJARAN

 Nama : Muhammad Izma Wahyuda 

NIM : 11901061

Kelas : PAI 4E

Makul : Magang 1


                        STRATEGI PEMBELAJARAN 

Strategi pembelajaran bisa katakan berasal dari bahasa latin “strategia” yang mana bermakna seni yang penggunaannya untuk dapat mencapai tujuan yang ingin dituju, hal ini untuk pengertian strategi. Lalu untuk pengetian strategi pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar kepada siswa. Strategi pembelajaran terdiri dari teknik (prosedur) dan metode yang akan membawa siswa pada pencapaian tujuan. Jadi, strategi lebih luas daripada metode dan teknik. Ada dua kutub pendekatan yang bertolak belakang, yaitu ekspositori dan discovery. Kedua  pendekatan tersebut bermuara dari teori Ausubel yang menggunakan penalaran deduktif (ekspositori) dan teori Bruner yang menggunakan penalaran induktif (discovery). Kedua pendekatan tersebut merupakan suatu kontinum. Dari titik-titik yang terdapat sepanjang garis kontinum itu, terdapat metode-metode pembelajaran dari metode yang berpusat pada guru  (ekspositori), seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, sampai dengan metode yang berpusat pada siswa (discovery/inquiry), seperti eksperimen. 

Serta beberapa pendapat ahli mengenai strategi pembelajaran antara lain: 

Strategi pembelajaran menurut Frelberg & Driscoll (1992) dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemberian materi pelajaran pada berbagai tingkatan, untuk siswa yang berbeda, dalam konteks yang berbeda pula. 

Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu, meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. 

Dick & Carey (1996) berpendapat bahwa strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pembelajaran. Strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pelajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik siswa, kondisi sekolah, lingkungan sekitar serta tujuan khusus pembelajaran yang dirumuskan. 

Gerlach & Ely (1980) juga mengatakan bahwa perlu adanya kaitan antara strategi pembelajaran dengan tujuan pembelajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien. Strategi pembelajaran terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin bahwa siswa akan betul-betul mencapai tujuan pembelajaran. Kata metode dan teknik sering digunakan secara bergantian. Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa teknik (yang kadangkadang disebut metode) dapat diamati dalam setiap kegiatan pembelajaran. Teknik adalah jalan atau alat (way or means) yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan siswa ke arah tujuan yang akan dicapai. Guru yang efektif sewaktu-waktu siap menggunakan berbagai metode (teknik) dengan efektif dan efisien menuju tercapainya tujuan. 

Selain itu dasar dari strategi pembelajaran sebegai berikut: Crowl, Kaminsky & Podell (1997) mengemukakan tiga pendekatan yang mendasari pengembangan strategi pembelajaran. Pertama, Advance Organizers dari Ausubel, yang merupakan pernyataan pengantar yang membantu siswa mempersiapkan kegiatan belajar baru dan menunjukkan hubungan antara apa yang akan dipelajari dengan konsep atau ide yang lebih luas. Kedua, Discovery learning dari Bruner, yang menyarankan pembelajaran dimulai dari penyajian masalah dari guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelidiki dan menentukan pemecahannya.

Ketiga, peristiwa-peristiwa belajar dari Gagne.

Teori Advance Organizer menurut Ausubel (1977) menyarankan penggunaan interaksi aktif antara guru dengan siswa yang disebut belajar verbal yang bermakna (meaningful verbal learning) atau disingkat belajar bermakna pembelajaran ini menekankan pada ekspositori dengan cara, guru menyajikan materi secara eksplisit dan terorganisasi. Dalam pembelajaran ini, siswa menerima serangkaian ide yang disajikan guru dengan cara yang efisien. Model Ausubel ini mengedepankan penalaran deduktif, yang mengharuskan siswa pertama-tama mempelajari prinsip-prinsip, kemudian belajar mengenal hal-hal khusus dari prinsip-prinsip tersebut. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa seseorang belajar dengan baik apabila memahami konsep-konsep umum, maju secara deduktif dari aturan-aturan atau prinsipprinsip sampai pada contoh-contoh. Pembelajaran bermakna dari Ausubel menitikberatkan interaksi verbal yang dinamis antara guru dengan siswa. Guru memulai dengan suatu advance organizer (pemandu awal), kemudian ke bagian-bagian pembelajaran, selanjutnya mengembangkan serangkaian langkah yang digunakan guru untuk mengajar dengan ekspositori. Guru menggunakan advance organizer untuk mengaktifkan skemata siswa (eksistensi pemahaman siswa), untuk mengetahui apa yang telah dikenal siswa, dan untuk membantunya mengenal relevansi pengetahuan yang telah dimiliki. Advance organizer memperkenalkan pengetahuan baru secara umum yang dapat digunakan siswa sebagai kerangka untuk memahami isi informasi baru secara terperinci Anda dapat menggunakan advance organizer untuk mengajar bidang studi apa pun.

Teori Discovery Learning dari Bruner mengasumsikan bahwa belajar paling baik apabila siswa menemukan sendiri informasi dan konsep-konsep. Dalam belajar penemuan, siswa menggunakan penalaran induktif untuk mendapatkan prinsip-prinsip, contoh-contoh. Misalnya, guru menjelaskan kepada siswa tentang penemuan sinar lampu pijar, kamera, dan CD, serta perbandingan antara invention dengan discovery (misalnya, listrik, nuklir, dan gravitasi). Siswa, kemudian menjabarkan sendiri apakah yang dimaksud dengan invention dan bagaimana perbedaannya dengan discovery. Dalam belajar penemuan, siswa “menemukan” konsep dasar atau prinsip-prinsip dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang mendemonstrasikan konsep tersebut. Bruner yakin bahwa siswa “memiliki” pengetahuan apabila menemukan sendiri dan bertanggung jawab atas kegiatan belajarnya sendiri, yang memotivasinya untuk belajar.


Seorang guru dapat memilih 2 strategi pembelajaran yang berguna dalam pembelajran:

Strategi Deduktif dan Induktif

Namun hal yang paling penting apabila strategi pembelajaran berjalan dengan tujuan maka strategi pembelajaran harus menunjukkan kontinum yang terentang dari strategi yang berpusat pada guru, yang lebih eksplisit ke strategi yang berpusat pada pebelajar, yang kurang eksplisit. Dengan strategi pembelajaran deduktif, pembelajaran dimulai dengan prinsip yang diketahui ke prinsip yang tidak diketahui. Dengan strategi pembelajaran induktif, pembelajaran dimulai dari prinsip-prinsip yang tidak diketahui ke prinsip-prinsip yang diketahui. Perbedaan antara keduanya dicontohkan sebagai berikut guru mengajar konsep topic sentence, guru

yang menggunakan pendekatan deduktif meminta pebelajar membaca definisi topic sentence. Kemudian, guru memberikan contoh-contoh topic sentence dan mengakhiri pelajaran dengan meminta pebelajar menulis kalimat topiknya sendiri. Selanjutnya, guru dapat mereviu kalimat tersebut dan memberikan balikan Kekuatan strategi deduktif ini berpusat pada strategi pembelajaran yang menghubungkan antara contoh guru dan tugas pebelajar. Walaupun koran merupakan media yang bagus digunakan untuk pelajaran topic sentence. Guru yang menggunakan pendekatan induktif mungkin memberikan contoh paragraf dengan penekanan pada topic sentence. Dengan strategi ini, guru tidak menceritakan pada awal ketika pebelajar mempelajari topic sentence atau guru tidak memberikan definisinya, tetapi pada akhirnya pebelajar akan menemukan sendiri apa yang dimaksud dengan topic sentence.

Kesimpulannya Untuk sekarang ini guru harus benar-benar melihat dengan tepat dalam menentukan Startegi pembelajaran, strategi yang dapat digunakan seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, dan demonstrasi, serta berbagai media, seperti film, VCD, kaset audio, dan gambar hal ini untuk pembelajaran secara langsung, lalu untuk pembelajaran secara online dapat menggunakan berbagai teknologi aplikasi yang sudah ada di dalam fitur-fitur Hp maupun Laptop seperti WhatsApp, Zoom, Google Class Room, Youtube, E-Learning, dan masih banyak lagi. Hal ini dapat digunakan dalam strategi pembelajaran seorang guru. Seorang guru memang harus kreatif, inovatif, serta harus berfikir lebih untuk menciptakan suasana belajar yang mudah diterima oleh semu siswa. 

Strategi ekspositori langsung

Strategi pembelajran ini guru lebih pada menyampaikan materi yang diikuti dengan tujuan pelajaran dengan jelas. Strategi pembelajran ini berdasarkan pada keyakinan bahwa semua pebelajar dapat menuntaskan bahan yang diajarkan jika kondisi-kondisi pelajaran disiapkan untuk itu. Kondisi-kondisi tersebut meliputi pebelajar diberi waktu belajar yang cukup, ada balikan untuk penampilannya, program pembelajaran individual, berkaitan dengan porsi materi yang tak dikuasai pada pembelajaran awal, dan kesempatan menunjukkan ketuntasan setelah

mendapat remediasi.

Secara lebih dalam strategi pembelajaran ini sebagai berikut.

Pembelajaran Langsung

memiliki 4 komponen, yaitu penentuan tujuan yang jelas, pembelajaran dipimpin guru, monitoring hasil belajar yang cermat, dan metode organisasi dan pengelolaan kelas. Pembelajaran langsung efektif karena didasarkan pada prinsip-prinsip belajar behaviouristik, seperti menarik perhatian pebelajar, penguatan respons pebelajar, menyediakan balikan korektif, dan melakukan respons-respons yang betul. Hal ini juga cenderung meningkatkan waktu belajar.

Pembelajaran Eksplisit

menuntut guru untuk memberi perhatian kepadapara murid, memberi penguatan atas respons  yang benar, menyediakan balikan kepada pebelajar tentang kemajuannya, dan meningkatkan jumlah waktu yang digunakan pebelajar untuk mempelajari materi.



Belajar Tuntas

suatu pendekatan pembelajaran individual yang menggunakan kurikulum terstruktur yang dipecah ke dalam serangkaianpengetahuan dan keterampilan-keterampilan kecil yang dipelajari. Pembelajaran ini didesain untuk menjamin bahwa pebelajar menguasai tujuan pembelajaran dan juga memberi waktu yang cukup kepada pebelajar. Model ini meyakini bahwa sebagian besar pebelajar akan mencapai suatu tingkat tertentu karena waktu belajar fleksibel dan tiap pebelajar menerima target pembelajaran, praktik yang diperlukan, dan balikan. Belajar tuntas melibatkan pembelajaran tradisional berbasis kelompok dan remediasi

individual serta pengayaan. Model ini memiliki kegiatan-kegiatan guru pada tingkat tinggi. Guru mendiagnosis kemampuan-kemampuan pebelajar, kemudian mempreskripsi kegiatan-kegiatan individual. 

Ceramah dan Demonstrasi

Suatu strategi pembelajaran dengan kegiatan guru menyampaikan fakta-fakta dan prinsip-prinsip, sedangkan pebelajar membuat catatan-catatan. Mungkin hanya sedikit atau tak ada partisipasi pebelajar dengan pertanyaan atau diskusi. Ceramahceramah dapat digunakan untuk mendesiminasi informasi dalam waktu singkat, menjelaskan ide-ide yang sukar, mendorong pebelajar untuk belajar, menyajikan informasi dengan suatu cara tertentu atau menyelesaikannya untuk kelompok khusus atau untuk menjelaskan tugas belajar. 

5. Demonstrasi

Sama dengan ceramah dalam hal komunikasi langsung dan pemberian informasi dari guru kepada pebelajar. Demonstrasi melibatkan pendekatan visual untuk menguji proses, informasi, ide-ide. Demonstrasi ini membolehkan pebelajar melihat guru sebagai pebelajar aktif dan model. Pebelajar dapat mengobservasi sesuatu yang riil dan bagaimana cara bekerjanya. Mungkin berupa demonstrasi murni, demonstrasi dengan komentar atau demonstrasi partisipatif dengan pebelajar. Dalam banyak kasus, guru mendemonstrasikan kegiatan tertentu atau kegiatan awal yang meminta pebelajar melakukannya secara individual. Bagi kebanyakan

pebelajar, demonstrasi guru ini dianggap sebagai contoh suatu kegiatan. Demonstrasi dapat digunakan untuk menampilkan ilustrasi atau prosedur yang efisien, mendorong minat pembelajar dalam suatu topik tertentu, menyiapkan contoh untuk mengajar keterampilan-keterampilan khusus, dan menyiapkan perubahan-perubahan langkah. Untuk mencapai demonstrasi yang efektif, guru harus merencanakan demonstrasi dengan cermat, mempraktikkan demonstrasi, mengembangkan suatu panduan untuk membimbing demonstrasi, meyakinkan bahwa setiap orang dapat melihat demonstrasi itu, menjelaskan demonstrasi untuk memusatkan perhatian, memberikan pertanyaan-pertanyaan, dan merencanakan tindak lanjut demonstrasi.

Pertanyaan-pertanyaan dan Resitasi

Hal ini harus mempertimbangkan tingkat pertanyaan, dan penggunaan pertanyaan konvergen dan divergen, jenis pertanyaan, serta cara menyusun pertanyaan. 

 Resitasi

Strategi pertanyaan ini menggunakan pertanyaan guru secara lisan tentang materi yang telah

Dipelajari serta mendiagnosis kemajuan para murid dalam pembelajaran.

Praktik dan Latihan (Drill)

praktik lebih bermakna apabila waktunya longgar (tak hanya satu hari setelah tes). Drill,  termasuk pengulangan informasi pada topik tertentu sampai benar-benar dicamkan dalam pikiran pebelajar. Drill ini digunakan untuk pembelajaran yang diharapkan menjadi kebiasaan atau ditetapkan dalam jangka waktu panjang. Praktik dan drill termasuk ulangan yang diharapkan membantu pebelajar memahami informasi dengan lebih baik. Hal ini berguna dalam pengembangan kecepatan dan keakuratan dalam mengingat fakta, generalisasi, dan konsep. 

Reviu

Berbentuk rangkuman pada akhir pelajaran atau unit atau pada akhir suatu bab, kuis, garis besar, diskusi, dan tanya jawab atau strategi yang lain. Berguna sekali bagi keterampilan dan pemahaman siswa dalam pembelajaran tersebut.

Diskusi Kelas secara Keseluruhan

Ini lebih pada membuat kelompok diskusi atau kelompok belajar, jadi terdiri dari bebberapa orang murid. Yang mana mencari materi yang sudah ditentukan oleh guru tersebut. 

Ini lah 2 strategi secara mendalam yang dapat digunakan oleh guru guna memudahkan dalam pembelajaran.


Referensi:

http://repository.ut.ac.id/4798/1/PBIN4301-M1.pdf.


Sabtu, 10 April 2021

Manajemen Kelas

 Nama   : Muhammad Izma Wahyuda

Kelas   : PAI 4E

NIM    : 11901061

Makul  : Magang 1 

                                   Manajemen Kelas

     Assalamu’alakim Warahmatullahi wabarakatuh. Pada kesempatan ini kita masih diberikan oleh Allah Swt untuk dapat berjumpa kemabali, biarpun masih dalam keadaan yang belum memungkinkan untuk bertemu secara langsung namun hal tersebut tidak dapat membatasi kita untuk bersama-sama untuk mempelajarai ilmu pendidikan. Terutama pada kali ini berkaiatan sekali dengan tugas kuliah magang 1, dimana kali ini saya akan menyampaiakan menegenai Manajemen Kelas, yang mana pokok pembahasan saya terdiri dari 6 hal-hal yang amat penting di pahamai dalam manajemen kelas serta 1 kesimpulan. Untuk penejelasan lebih kongkrit mari bersama kita memebaca pembahasan ini dengan seksakma.


                                  Manajemen Kelas


1. Pengertian Manajemen Kelas


Setelah membaca dengan seksama, disini saya dapat memberikan gambaran atau pemahaman saya setelah membaca serta memahami beberapa jurnal mengenai Manjemen Kelas, ada hal yang perlu diketahui tentang apa itu manajemen. Berbicara tentang apa itu manajemen pasti didalam pikiran kita langsung tertuju pada hal pengelolaan, penyelenggaraan, penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan. 

Selain itu juga ada itu kelas, untuk pengertian kelas secara mudahnya sekelompok peserta didik yang ada pada waktu yang sama menerima pembelajaran yang sama dari pendidik.  Setelah membaca secara mendalam dapat dilihat dari hal ini ternyata kelas dapat dilihat ada sedikit perbedaan mengenai atas dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan pandangan dari segi siswa. Maksudnya begini pandangan kelas dari Fisik adalah berupa ruangan khusus,

tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam

hal ini mengandung sifat-sifat statis, karena sekedar menunjuk pada adanya pengelompokan siswa berdasarkan batas umur kronologis masing-masing, sedangkan pandangan diri segi siswa merupakan suatu masyarakat kecil yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara kreatif untuk mencapai tujuan

Jadi Manajemen Kelas usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar

secara sistematis. Usaha tersebut mengarah pada penyiapan bahan belajar, sarana prasarana

pembelajaran, pengaturan ruang belajar, yang diarahkan untuk mewujudkan suasan

pembelajaran yang efektif serta upaya mengelola siswa didalam kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana atau kondisi kelas yang menunjang program pengajaran dengan jalan menciptakan dan mempertahankan motivasi siswa untuk selalu ikut terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah. 


2. Tujuan Manjemen Kelas 


Meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian merupakan tujuan pembelajaran untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman untuk tempat berlangsungnyaproses belajar mengajar. Dengan demikian, proses tersebut akan dapat berjalan dengan efektif dan terarah, sehingga cita-cita pendidikan dapat tercapai demi terbentuknya sumber

daya manusia yang berkualitas lebih kongkrit tujuan manajemen kelas mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran di lembaga pendidikan sekolah  lebih lanjut, proses pembelajaran di lembaga tersebut (sekolah) dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan dalam hal ini tujuan manajemen kelas secara khusus dibagi menjadi dua yaitu tujuan untuk siswa dan guru.


1. Tujuan Untuk Siswa: 

a. Mendorong siswa untuk mengembangkan tanggung-jawab individu terhadap tingkah lakunya dan kebutuhan untuk mengontrol diri sendiri. 

b. Membantu siswa untuk mengetahui tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan. 

c. Membangkitkan rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri dalam tugas maupun pada kegiatan yang diadakan.

Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan daripada manajemen kelas adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib, sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. 


2. Tujuan Untuk Guru: 

a. Untuk mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran dengan pembukaan yang lancar dan kecepatan yang tepat. 

b. Untuk dapat menyadari akan kebutuhan siswa dan memiliki kemampuan dalam memberi petunjuk secara jelas kepada siswa. 

c. Untuk mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang mengganggu. 

d. Untuk memiliki strategi ramedial yang lebih komprehensif yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang muncul didalam kelas. 


3. Prosedur Manajemen Kelas

prosedur manajemen kelas ini dapat dilakukan secara pencegahan maupun penyembuhan . Perbedaan kedua jenis pengelolaan kelas tersebut, akan berpengaruh terhadap perbedaan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh seorang guru dalam menerapkan kedua jenis manajemen kelas tersebut. Dikatakan secara preventif apabila upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk mengatur siswa, peralatan (fasilitas) atau format belajar mengajar yang tepat dan dapat mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan manajemen kelas secara kuratif adalah langka-langka tindakan penyembuhan terhadap tingkah laku menyimpang yang dapat mengganggu kondisi-kondisi optimal dan proses belajar mengajar yang sedang berlangsung.


4. Pendekatan dan Prinsip-prinsip dalam Manajemen Kelas

Peran penting seorang guru dalam menjalankan manajemen kelas akan sangat dipengaruhi oleh pandangan guru tersebut terhadap tingkah laku siswa, karakteristik watak dan sifat siswa, dan situasi kelas pada waktu seorang siswa melakukan penyimpangan. perlu kita sadari bahwa jumlah siswa di dalam kelas akan turut

mewarnai dinamika kelas itu sendiri. Semakin banyak jumlah siswa yang ada dalam suatu

kelas, maka kemungkinan besar akan semakin sering terjadi konflik antarsiswa. Sebaliknya

semakin sedikit jumlah siswa dalam suatu kelas, maka kecenderungan terjadi konflik juga

akan semakin kecil. Oleh karena itu, agar manajemen kelas dapat diterapkan dengan baik,

penting bagi para guru untuk dapat memahami beberapa prinsip dasar tentang manajemen

kelas. Prinsip-prinsip dasar ini sangat dibutuhkan guna memperkecil timbulnya masalah

atau gangguan dalam mengelola atau memanajemen kelas. Beberapa prinsip manajemen

kelas tersebut, antara lain sebagai berikut:

1) Guru Harus Hangat dan Antusias

Agar kelas dapat dikelola dengan baik, seorang guru harus bersikap hangat dan antusias kepada siswa. Untuk dapat memiliki sikap yang hangat kepada siswa guru dapat melakukan hal-hal berikut:

a) Bertanyalah tentang kabar siswa-siswi sebelum memulai pelajaran. 

Cara ini setidaknya dapat membangun kesan mendalam pada diri siswa dan membuat mereka benar-benar merasa diperhatikan.

b) Sediakan waktu dan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan persoalan-persoalan yang mereka hadapi, baik mengenai persoalan pelajaran atau persoalan lain.

c) Berdoalah untuk mereka. Ketika guru secara khusyuk berdoa untuk siswa dan siswa mengamininya, maka pada saat itu terjalin hubungan emosional yang kuat antara guru dengan siswa. ruangan dan perabotan pelajaran, serta pengelompokan siswa dalam belajar. 

Apabila pengaturan kondisi belajar maksimal dengan sendirinya, besar kemungkinan proses pembelajaran akan berlangsung secara maksimal pula. Sebaliknya, apabila terdapat kekurangan antara tugas dan sarana atau alat, atau terputusnya antara satu keinginan dengan keinginan lain, atau kebutuhan dengan pemenuhannya, maka terjadilah gangguan terhadap proses belajar yang dimaksud. Gangguan dapat bersifat sementara dan ringan dan dapat pula bersifat serius dan terus menerus. Gangguan yang pertama mempersyaratkan ketrampilan mendisiplin untuk mengembalikan iklim belajar yang serasi, sedangkan gangguan yang kedua menuntut keterampilan melakukan tindakan rasional remedial.

5. Implementasi Manajemen Kelas dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar

Dalam kaitan dengan implementasi Manajemen Kelas memang perlu adanya perencanaan pembelajaran, pengarahan, mengatur ruang kelas, komunikasi; dan kontrol. Hal ini diimplementasikan untuk meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar sehingga dapat meraih prestasi yang murni. Manajemen kelas menggambarkan keterampilan guru dalam merancang, menata, dan mengatur kurikulum, menjabarkan ke dalam prosedur proses belajar mengajar dan sumber-sumber belajar, serta menata lingkungan belajar yang merangsang untuk tercapainya suasana proses belajar yang efektif dan efisien. Hal ini bisa dilakukan melalui beberapa cara separti melaksanakan ketatausahaan kelas, pembinaan disiplin kelas, pendekatan pengelolaan kelas (pendekatan guru kepada muridnya). Guru adalah merupakan ujung tombak, penentu pencapaian tujuan pendidikan untuk itu, guru harus memiliki dedikasi yang tinggi, pengetahuan yang dalam tentang ilmu kependidikan, cerdas menentukan tindakan yang tepat terhadap setiap permasalahan pendidikan yang dihadapinya, selain itu, seorang guru cerdas pula dalam menentukan dan mengembangkan Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Inti (KI), merumuskan indikator dan mengembangkan indikator menjadi tujuan pembelajaran, mampu memilih model pembelajaran inovatif, menganalisis materi, memilih media yang tepat, sebagai alat bantu guru untuk menyampaikan pembelajaran, merumuskan evaluasi pembelajaran untuk mengukur keberhasilannya dalam melaksanakan Proses Belajar Mengajar (PBM). 

Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar, yaitu pengelolaan kelas dan pengajaran itu sendiri. Kedua hal itu saling tergantung. Keberhasilan pengajaran, dalam arti tercapainya tujuan-tujuan intruksional sangat bergantung pada kemampuan mengelola kelas. Kelas yang baik dapat menciptakan situasi yang memungkinkan siswa belajar sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran. 

Siswa dapat belajar dengan baik, dalam suasana yang wajar tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Mereka memerlukan bimbingan dan bantuan untuk mamahami bahan pengajaran dalam berbagai kegiatan belajar. Untuk menciptakan suasana yang menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, dan lebih memungkinkan guru memberikan bimbingan terhadap siswa dalam belajar, diperlukan pengorganisasian atau pengelolaan kelas yang memadai. Pengorganisasian kelas adalah suatu rentetan kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi yang efektif, yang meliputi: tujuan pengajaran, pengaturan penggunaan waktu yang tersedia, pengaturan


6. Faktor penghambat manajemen kelas dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar 

Dibawah ini yang sering dialami dalam Ada beberapa  faktor yang menghambat manjemen Kelas 

a. Faktor guru, faktor penghambat yang datang dari berupa hal-hal, seperti: tipe kepemimpinan guru yang otoriter, format belajar mengajar yang tidak bervariasi (monoton), kepribadian guru yang tidak baik, pengetahuan guru yang kurang, serta pemahaman guru tentang peserta didik yang kurang. 

b. Faktor peserta didik. Kekurang sadaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan 

haknya sebagai anggota kelas atau suatu sekolah akan menjadi masalah dalam pengelolaan kelas. 

c. Faktor keluarga. Tingkah laku peserta didik di dalam kelas merupakan pencerminan Keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif atau apatis. Di dalam kelas sering ditemukan ada peserta didik pengganggu dan pembuat ribut, mereka itu biasanya dari keluarga yang broken-home. 

d. Faktor fasilitas. Faktor ini meliputi: jumlah peserta didik dalam kelas yang terlalu banyak dan tidak seimbang dengan ukuran kelas, besar dan kecilnya ruangan tidak disesuaikan dengan jumlah peserta didiknya, ketersediaan alat yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik yang membutuhkannya. 


Kesimpulan

Manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik dengan baik. Manajemen kelas terkait perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program manajemen kelas. Manajemen kelas pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Manajemen kelas dalam konsep modern dipandang sebagai proses mengorganisasikan segala sumber daya kelas bagi terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Sumber daya itu diorganisasikan untuk memecahkan beragam masalah yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran sekaligus membangun situasi kelas yang kondusif secara berkesinambungan. Guru sebagai pemimpin kelas diharapkan mampu menerapkan pendekatan manajemen kelas berdasarkan situasi dan kondisi yang berlangsung. Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.


Referensi :


https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://core.ac.uk/download/pdf/228816301.pdf&ved=2ahUKEwj2vZuN6vXvAhWXWX0KHRpxAgAQFjAAegQIAxAC&usg=AOvVaw3djakt4cXCZZjCVJFLSp0g

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://jurnal.iain-bone.ac.id/index.php/adara/article/download/425/350&ved=2ahUKEwj00Nqd8fXvAhVLFLcAHRuEBCUQFjABegQIAxAC&usg=AOvVaw1aWJ5cYtFhdhIIp5VYaOUg









          

         


Hasil Bacaan Kurikulum

  Nama : Muhammad Izma Wahyuda NIM : 11901061 Kelas : ...