|
Nama |
: |
Muhammad Izma Wahyuda |
|
NIM |
: |
11901061 |
|
Kelas |
: |
PAI 4/E |
|
Mata Kuliah |
: |
Magang 1 |
|
Dosen Pengampu |
: |
Farninda Aditiya, M.Pd. |
KURIKULUM
Dalam dunia
pendidikan, khususnya di ruang lingkup universitas atau kampus. Kurikulum ini dapat diketahui secara
luas didefinisikan sebagai totalitas pengalaman mahasiswa yang terjadi di
proses pendidikan. Istilah ini sering merujuk
secara khusus pada urutan instruksi yang direncanakan, atau pandangan
pengalaman siswa dalam hal tujuan instruksional pendidik atau sekolah. Dalam
sebuah studi tahun 2003, Reys, Reys, Lapan, Holliday, dan Wasman mengacu pada
kurikulum sebagai seperangkat tujuan pembelajaran yang diartikulasikan di
seluruh kelas yang menguraikan konten matematika yang dimaksudkan dan tujuan
proses pada titik waktu tertentu di seluruh program sekolah. Kurikulum dapat
menggabungkan interaksi yang direncanakan murid dengan konten instruksional,
bahan, sumber daya, dan proses untuk mengevaluasi pencapaian tujuan pendidikan.
Kurikulum dibagi menjadi beberapa kategori: eksplisit, implisit (termasuk yang
tersembunyi), yang dikecualikan, dan ekstrakurikuler.
Perlu diperhatikan Kurikulum mungkin distandarisasi secara
ketat, atau mungkin mencakup otonomi instruktur atau pelajar tingkat tinggi. Banyak
negara memiliki kurikulum nasional dalam pendidikan
dasar, pertama dan menengah.
Apa sih sebenarnya
yang disebut dengan kurikulum PAI kurikulum terlebih dahulu kita harus
menempatkan kurikulum dalam konteks yang lebih luas yaitu dalam dunia pendidikan
itu sendiri, Kita tahu bahwa pendidikan punya tujuan yang jelas demikian juga
dengan pembelajaran, maka sebenarnya bisa kita lihat bahwa tujuan pendidikan
dan pembelajaran pasti didasari oleh pertimbangan ketimbangan tertentu dalam
hal ini terdapat tiga pertimbangan utama dalam tujuan pendidikan dan pengajaran
yaitu perkembangan blouse office perkembangan psikologis dan juga pertimbangan
sosial nah bener ya ketika kita memahami bahwa tujuan pendidikan dan
pembelajaran memiliki dasar filosofis ekologis dan sosial. Maka demikian pula
dengan kurikulum juga pasti memiliki dasar filosofis psikologis dan sosial
terutama dalam pengembangan implementasi dan evaluasi nya
Nah
kalau kita lihat secara lebih luas tujuan pendidikan dan pembelajaran Pasti
akan sangat beragam karena didasari oleh berbagai pandangan filosofis di
berbagai pertimbangan schoology student juga sosial Nah kita lihat kalau dalam
komponen pendidikan bahwa pendidikan itu merupakan ilmu yang mengkaji bagaimana
siswa yang paling awal yang harus dijawab dalam belajarnya untuk belajar untuk
terus bisa menyetujui dan pembelajaran dan ketika tujuan pergantian pelajaran
tersebut didasari pertimbangan filosofis psikologis dan sosial. Maka ada satu
pertanyaan mau belajar apa dan jawabannya adalah kurikulum kurikulum jika harus
punya dasar filosofis ekologis dan sosial kita bisa melihat di sini bahwa
kurikulum menjadi bagian dari elemen pendidikan itu sendiri. Perlu diperhatikan
betul-betul bahwa kurikulum merupakan bagian dari sistem pendidikan yang ada
yang melihat bahwa ia merupakan satu sistem yang utuh yang terdiri dari elemen-elemen
yang saling punya peran dan posisi untuk mencapai tujuan yang sama yaitu tujuan
pendidikan.
Dalam
melaksanakan setiap kegiatan pembelajaran sebagai salah satu bentuk aktualisasi
kurikulum, para guru terlebih dahulu harus memahami, menghayati, dan menjiwai
tujuan pendidikan lembaganya masing-masing. Hal ini penting agar setiap
aktivitas yang dilakukan sesuai dan menyokong pada upaya pencapaian tujuan
lembaga.
Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa
kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian
tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara
yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Tujuan
kurikulum pada hakikatnya adalah rumusan tujuan dari setiap program pendidikan
yang akan diberikan dan harus dicapai oleh siswa. Mengingat kurikulum adalah
alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka tujuan kurikulum pada setiap
program pendidikan harus merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional.
Rumusan tujuan pendidikan nasional di Indonesia dijabarkan dengan mengacu pada
falsafah negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Bila kembali
pada sejarah awal kurikulum, maka dapat kita ketahui kurikulum pada mulanya dipopulerkan dalam dunia olah raga pada jaman
Yunani kuno. Dalam bahasa Yunani Curriculum berasal dari kata curir artinya pelari dan curere yang artinya tempat berpacu. Curiculum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh
oleh pelari. Dalam dunia pendidikan diartikan “sejauh mata pelajaran yang harus
ditempuh atau diselesaikan oleh peserta didik untuk memperoleh ijazah. Isi dari
kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran (subject matter) yang diberikan oleh institusi pendidikan yang
kemudian dapat diperluas dengan kegiatan intra kurikuler dan ekstra kurikuler
dan tujuan utama pendidikan atau kurikulun adalah agar peserta didik menguasai
pengetahuan atau mata pelajaran yang disimbolkan dalam bentuk ijazah atau surat
tanda belajar. Secara terminologis, istilah kurikulum yang digunakan dalam
dunia pendidikan mengandung pengertian sebagai sejumlah pengetahuan atau mata
pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa untuk mencapai satu
tujuan pendidikan atau kompetensi yang ditetapkan. Sebagai tanda atau bukti
bahwa seseorang peserta didik telah mencapai standar kompetensi tersebut adalah
dengan sebuah ijazah atau sertifikat yang diberikan kepada peserta didik.
Pada awal abad 20 terutama di
Amerika muncul beberapa jenis organisasi kurikulun yang baru sebagai reaksi
terhadap kurikulum subject matter yakni organisasi kurikulum paling tua.
Pertentangan muncul antara subject matter dengan lawannya yakni activity curriculum. Dalam dunia
pendidikan kita mengenal tiga jenis kurikulum yaitu subject matter curriculum, activity
curriculum dan core
curriculum.
Subject
Matter Curriculum merupakan kurikulum yang tertua yaitu organisasi
kurikulum berupa isi pendidikan dalam bentuk mata pelajaran (diklasifikasikan
berdasarkan bidang keilmuan yang disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik),
yang diberikan kepada para peserta didik secara terpisah-pisah satu sama
lain. Kurikulum subject
matter memiliki beberapa kelemahan antara lain terlalu fragmentalis
(terpecah), mengabakan minat dan bakat sisiwa, penyusunan yang tidak efisien,
mengabaikan masalah sosial, gagal mengembangkan cara berpikir kreatif. Akibat
kritikan tersebut maka dikembangkan beberapa kurikulum untuk menyempurnakan
kurikulum subject matter antara
lain Corelated Curriculum (kurikulum
korelasi) yang dikembangkan oleh Herbat pada awal abad 19. Kurikulum ini
menekankan adanya hubungan antara beberapa mata pelajaran tanpa menghilangkan
batas-batas setiap mata pelajaran, seperti Broad field Curriculum yang
dipelopori oleh Thomas Huxley pada tahun 1969 di London dan di Amerika yang
pertama kali muncul ada awal abad 20. Sedangkan di Indonesia sejak tahun 1975
dalam kurikulum sudah menggunakan prinsip broadfield dengan mengembangkan
bidang studi IPA,IPS, Bahasa, Matematika dan lain-lain.
Kurikulum aktivitas (activity curriculum) disebut juga
kurikulum proyek atau kurikulum pengalaman. Kurikulum ini pertama kali
diperkenalkan di Amerika Serikat melalui sekolah percobaan yang dipimpin oleh
John Dewey 1897 di Chicago. Perbedaan antara kurikulum subject matter dan activity curriculum adalah
program pendidikan ditujukan perhatiannya pada anak (child centre) bukan subject
centre, belajar bersama merupakan hasil usaha perhatian bersama, tidak
ada perencanaan yang mendahului, namun guru tetap bertanggung jawab terhadap
beberapa tugas penting yang menuntu perencanaan.
Kurikulum inti (core curriculum) yang berpadangan
bahwa pendidik memberikan tekanan kepada dua aspek yang berbeda yaitu: adanya
reaksi terhadap mata pelajaran yang bercerai berai yang mengakumulasikan
bahan pengetahuan,
perubahan konsep mengenai peran ssial pendidikan di sekolah. Ciri-ciri
kurikulum ini yang membedakannya dengan dua kurikulum sebelumnya adalah
menekankan pada inti nilai-nilai sosial, struktur kurikulum ini ditentukan oleh
problem sosial dan pri-kehidupan sosial, ciri pokok dari kurikulum ini adalah
bahwa belajar umum
diperlukan bagi semua siswa. Kelemahan kurikulum ini adalah lebih menekankan
pada lapangan sosial.
kurikulum
sebagai alat pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa fungsi, yaitu:
kurikulum sebagai pengembangan proses kognitif anak, aktualisasi diri anak, rekonstruksi
sosial, dan akademik.
Implementasi
kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum
tertulis. written curriculum dalam bentuk pembelajaran. hal ini sejalan dengan apa
yang diungkapkan Miller dan Seller (1985) bahwa implementasi kurikulum merupakan
suatu penerapan konsep ide program atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran atau berbagai
kreatifitas baru sehingga terjadinya perubahan pada sekelompok orang yang
diharapkan untuk berubah.
Fullan
dalam Hamalik (1991: 65:66) mendefnisikan suatu gagasan, program atau kumpulan
kegiatan yang baru bagi orang-orang yang berusaha atau diharapkan untuk berubah. Dengan
demikian, implementasi kurikulum adalah penerapan ataupelaksanaan
program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian
diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan yang disesuaikan terhadap
situasi dan kondisi lapangan dan karakteristik peserta didik baik perkembangan
intelektual, emosional, serta fsiknya.
Jadi dapat
dipahami bahwa Dari segi bahasa curriculum dalam bahasa Yunani berasal dari
kata curir yang artinya pelari dan curere yang artinya tempat berpacu. Dalam
perkembangan selanjutnya pengertian kurikulum dapat dilihat secara sempit dan
luas. Secara sempit kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang
harus dipelajari siswa untuk memperoleh ijazah. Sementara itu, dalam pandangan
yang luas, kurikulum tidak hanya dibatasi pada sejumlah mata pelajaran yang
lebih banyak menekankan pada isi, akan tetapi meliputi semua pengalaman belajar
yang dilakukan pihak sekolah untuk mempengaruhi perkembangan pribadi siswa ke
arah yang lebih positif sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Kurikulum di sisi lain diartikan sebagai program pendidikan yang mengatur dan
mengelola segala hal yang berkaitan dengan kepentingan pendidikan. Dalam
perkembangan terakhir dengan orientasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, kurikulum
diartikan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar
yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan pembelajaran, serta pemberdayaan
sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Atas beberapa
pengertian tersebut, kurikulum bisa diklasifikasi ke dalam dua segi: pertama,
kurikulum ideal, yaitu rencana yang tertulis menyangkut segala se-suatu
berkenaan dengan kepentingan pendidikan dan kedua, kurikulum aktual, yaitu
kurikulum dalam dimensi implementasi pada setiap terjadinya proses pembelajaran
yang dilakukan. Kurikulum memiliki peran yang sangat penting mengingat
fungsinya sebagai alat untuk menjabarkan program pendidikan agar dapat
dilakukan secara terencana, sistematis dan sistemik. Ada tiga pendekatan yang
dapat dilakukan dalam pengorganisasian bahan atau materi pelajaran, yaitu
pertama, model terpisah di mana bahan disusun secara terpisah untuk setiap mata
pelajaran atau topik; kedua, model terkait, yaitu pengorganisasian yang
menggabungkan beberapa topik atau materi yang memiliki keterkaitan ke dalam
satu bidang; dan ketiga model terpadu yaitu suatu pendekatan yang menggabungkan
secara utuh setiap materi atau bahan menjadi suatu unit yang tidak mengenal
adanya batas-batas pemisah